Sukadana – Selembar KTP-el biasanya tersimpan di dompet dan baru dicari ketika petugas memintanya. Pada Senin (12/10/2026), para peserta Orientasi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Pendopo Bupati Kayong Utara menunjukkan cara lain: cukup membuka ponsel, memasukkan PIN, lalu identitas kependudukan mereka tampil lengkap di layar.
Di sela agenda orientasi, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kayong Utara membuka layanan aktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD). Petugas menyiapkan meja layanan dan mendampingi peserta satu per satu. Peserta datang dengan ponsel di tangan dan KTP-el di saku, lalu bergantian mengikuti proses aktivasi.
Suasana pendopo siang itu terasa seperti kelas praktik. Ada peserta yang mengunduh aplikasi sambil mencari titik dengan sinyal terbaik. Ada pula yang memastikan alamat surel di akunnya masih aktif. Petugas berkeliling, membantu yang menemui kendala, dan mengingatkan agar PIN yang dibuat tidak sampai terlupa.
Memanfaatkan Waktu Berkumpul
Disdukcapil memilih orientasi PPPK sebagai momentum karena peserta dari berbagai perangkat daerah berkumpul di satu tempat pada waktu yang sama. Petugas tidak perlu mendatangi mereka satu per satu, dan peserta tidak harus meluangkan waktu khusus untuk datang ke kantor Disdukcapil.
Pilihan itu masuk akal. Sebagai aparatur, PPPK sehari-hari berinteraksi dengan layanan publik dan kerap menjadi tempat bertanya bagi warga di lingkungannya. Ketika mereka sudah akrab dengan IKD, pengetahuan itu bisa menyebar ke keluarga, tetangga, dan masyarakat yang mereka layani.
Cara Kerja Aktivasi
Proses aktivasi IKD tidak rumit, tetapi ada syarat yang harus dipenuhi. Peserta membawa KTP-el asli, ponsel pintar, dan alamat surel aktif. Mereka mengunduh aplikasi IKD, mengisi data awal, lalu menjalani verifikasi. Setelah itu petugas Disdukcapil memberikan kode aktivasi. Peserta memasukkan kode tersebut, membuat PIN, dan identitas digital pun aktif.
Tahap tatap muka dengan petugas punya peran penting. Petugas memastikan data pemilik identitas cocok dengan data kependudukan yang tersimpan. Proses ini juga menjaga keamanan data, sehingga IKD tidak bisa diaktifkan sembarang orang hanya dengan mengetahui nomor induk kependudukan.
Sebagian besar peserta dapat menyelesaikan aktivasi dalam waktu singkat. Peserta yang menemui kendala, misalnya sinyal lemah atau lupa kata sandi surel, langsung dibantu di tempat.
Manfaat untuk Masyarakat
Pertanyaan yang paling sering muncul saat sosialisasi IKD sederhana: apa untungnya bagi warga? Jawabannya terasa dalam keseharian.
Pertama, identitas selalu ada di tangan. Warga tidak perlu cemas ketika KTP-el tertinggal di rumah. Selama ponsel dibawa, identitas bisa ditunjukkan kapan pun dibutuhkan.
Kedua, risiko kehilangan dan kerusakan fisik berkurang. KTP-el yang patah, tergores, atau hilang membuat warga harus mengurus penggantian. Dengan IKD, data tetap tersimpan dalam aplikasi dan dilindungi PIN.
Ketiga, urusan administrasi lebih ringkas. Verifikasi identitas dapat dilakukan lewat kode QR pada aplikasi. Warga tidak perlu lagi sibuk memfotokopi KTP untuk setiap keperluan, sepanjang layanan yang dituju sudah menerima IKD sebagai tanda pengenal.
Keempat, akses dokumen kependudukan lebih dekat. Warga dapat melihat data kependudukannya melalui ponsel tanpa membuka map berisi berkas. Bagi masyarakat Kayong Utara yang tinggal jauh dari pusat kota, kemudahan ini berarti penghematan waktu dan biaya perjalanan.
Kelima, data pribadi lebih terlindungi. Akses ke aplikasi memerlukan PIN dan verifikasi, sehingga orang lain tidak bisa membuka identitas pemilik begitu saja.
Bagi warga di wilayah kepulauan dan pesisir, manfaat tersebut punya arti lebih. Jarak dan jadwal transportasi sering menentukan apakah satu urusan selesai dalam sehari atau berhari-hari. Identitas yang bisa diakses dari ponsel menghilangkan sebagian kerepotan itu.
Perlu Sinyal, Perlu Pendampingan
Meski praktis, IKD tetap membutuhkan dukungan. Aktivasi memerlukan koneksi internet yang cukup stabil, dan tidak semua warga terbiasa mengelola aplikasi di ponsel. Kelompok lanjut usia, misalnya, masih memerlukan pendampingan agar tidak ragu menggunakannya.
Disdukcapil menyadari hal itu. Karena itu, layanan aktivasi tidak hanya menunggu di kantor, tetapi juga dibawa ke tempat orang berkumpul. Kegiatan di Pendopo Bupati ini menjadi salah satu contohnya: petugas menjemput bola, bukan menunggu warga datang ke loket.
Dari Pegawai ke Warga
Menjelang sore, antrean di meja layanan mulai menyusut. Peserta yang sudah selesai saling memperlihatkan layar ponsel, membandingkan tampilan identitas digital mereka, dan menjajal fitur kode QR. Ada yang langsung berencana membantu orang tua di rumah mengaktifkan IKD.
Bagi Disdukcapil Kayong Utara, reaksi seperti itu lebih berharga daripada angka capaian. Identitas digital baru bermanfaat jika dipakai, dan pemakaiannya tumbuh dari kebiasaan yang ditularkan dari orang ke orang. Peserta orientasi PPPK hari itu menjadi bagian awal dari rantai tersebut.
Warga yang ingin mengaktifkan IKD dapat mendatangi kantor Disdukcapil Kayong Utara dengan membawa KTP-el asli dan ponsel pintar. Petugas siap membantu proses aktivasi hingga identitas digital bisa digunakan.